Candi Borobudur sebagai bangunan yang berlatar belakang agama Buddha mempunyai banyak keindahan, keunikan dan serta kecantikan seni rupa luar biasa. Sebagaimana disebutkan keindahan bentuk kebudayaan bangunan ini yang mempunyai gaya arsitektur seni rupa piramida berundak yang banyak disebut sebagai bangunan punden berundak, pemujaan nenek moyang Indonesia, arsitektur bentuk stupa dan dipadu dengan seni ukir pahatan relif di dinding bangunan ini.
Chandi Borobudur
Borobudur merupakan model alam semesta yang dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha dan sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai dalam ajaran Buddha.
Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Candi Borobudur dengan keunikan bentuk arsitektur yang terdiri dari teras - teras, berjumlah enam teras bujur sangkar dan pada bagian atas terdapat tiga pelataran dengan bentuk lingkaran, pada bagian puncak terdapat stupa terbesar sebagai mahkota sedangkan pada dindingnya dihiasi dengan pahatan ukiran yang indah dengan jumlah 2.672 panil relief. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha, cerita Sidharta Gautama sebanyak 120 panil relif yang terlengkap dan bangunan ini mempunyai 504 arca Buddha.
Candi Borobudur. Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Buddha stupa yang dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Buddha Mahayana, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari wangsa Syailendra. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Kebudayaan Borobudur adalah candi Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Buddha dengan puncak berbentuk stupa yang dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Buddha Mahayana, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari wangsa Syailendra.
Lingkungan Tiga Candi
Beberapa bangunan candi-candi Buddha, monumen keagamaan yang terletak di dataran Kedu didirikan di sekitar monumen Candi Borobudur. Tempat-tempat suci Hindu dan Buddha, bisa dikatakan, dikemas bersama dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, monumen Buddha utama di daerah ini adalah: Chandi Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawen yang terdiri dari lima bangunan.
Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga; meskipun berdiri pada jarak yang cukup jauh satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan triad. Tata letak seperti ini, bagaimanapun, tidak ditemukan di Borobudur. Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya. Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalur prosesi beraspal, diapit oleh langkan yang didekorasi dengan indah. Beberapa batu pahat yang ditemukan di ladang sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa trotoar. Komposisi triad yang luar biasa telah menyebabkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut.
![]() |
Koridor imajiner jalan penghubung tiga candi untuk prosesi, antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Chandi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, tidak ada tempat di mana umat bisa beribadah. Kemungkinan besar itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual. Dipandu dan dipandu oleh relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, di sisi lain, tampaknya menjadi tempat pemujaan.
Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan. Asumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanannya dari Chandi Mendut ke Chandi Borobudur di sepanjang jalur prosesi beralas batu mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam pusat dalam suatu perjalanan panjang. Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah wajib di Chandi Mendut, Chandi Pawon merupakan tempat singgah untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Ilustrasi Danau Borobudur Arsitektur Borobudur menyerupai seni bentuk bunga teratai dan postur Buddha yang melambangkan Sutra Teratai didalam naskah keagamaan Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Danau Borobudur
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
![]() |
Danau Borobudur Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana, yaitu aliran Buddha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog. Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno.
Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
Selamat Datang di Bhumisambharabhudhara. Warisan Budaya Dunia UNESCO, chandi Buddha terbesar didunia. Sumber: foto arisguide, Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide. |
Sejarah Borobudur
Stupa utama terbesar, berada di tengah yang memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha, duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa.
Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan Candi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.
Tentang Candi Borobudur
Keberadaan Candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dalam pembangunannya membutuhkan waktu kurang lebih 100 tahun, yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga, dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M. Disebutkan kurun waktu antara tahun 760 dan 830 M, adalah masa puncak kejayaan Wangsa Syailendra yang berada di Jawa Tengah yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh Kerajaan Sriwijaya.
Menjelaskan tentang dokumen tertulis kapan awal mula pembangunan Chandi Borobudur, referensi tentang siapa yang membangunnya, dan untuk apa tujuan yang dimaksudkan, tidak diketahui secara pasti. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti atau tulisan yang dipahatkan di batu tulis dan salah satu diatas relief pada 'kaki tersembunyi' Chandi Borobudur, memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti-prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.
Sansekerta. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Perbandingan antara jenis tulisan / aksara yang tertulis di relif kaki tersembunyi Karmawibhangga, dengan jenis tulisan / aksara yang ada pada beberapa prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9.
Kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 disebutkan adalah masa keemasan dinasti Syailendra, dan hal ini dapat dilihat banyak membangun sejumlah besar bangunan suci, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung. Pengaruh Siva mendominasi di daerah pegunungan, yaitu daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha banyak didirikan dan saling berdekatan.
Nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua, tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Chandi Borobudur.
Prasasti Sojomerto Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto Screenshot arisguide. |
Nama Sanjaya kemudian muncul sekali lagi dalam prasasti Mantyasih berangka tahun 907 M, ditemukan kurang lebih sekitar 15 km sebelah utara Chandi Borobudur, prasasti Mantyasih hanya berisi daftar tentang raja - raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti tersebut yang berisi daftar raja - raja yang memerintah, secara eksplisit dianggap berasal dari dinasti Syailendra, hal ini sebenarnya masih diragukan, bahwa Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun candi Tara di desa Kalasan. Wangsa Syailendra dikenal sebagai pengikut setia aliran Buddha, tetapi wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto disebutkan adalah beraliran Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan beragama Hindu. Oleh karena itu dapat dijelaskankan bahwa raja-raja yang disebutkan didalam prasasti tersebut semuanya adalah pemeluk agama Hindu.
Menurut teori ini, Rakai Panangkaran adalah seorang raja dari wangsa Sanjaya yang berperan dalam pendirian kuil atau candi Budha Kalasan, sebenarnya hanyalah untuk memberikan sebidang tanah yang diperlukan dalam pembangunan candi; belum tentu seorang yang beragama Budha. Dalam hal ini agama tidak menjadi perbedaan dan konflik serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin bisa saja bagi seorang raja Hindu berperan dan mendukung pendirian bangunan candi Budha, atau bagi seorang raja yang beragama Budha untuk melakukan hal yang sama sebaliknya.
Anggapan tentang hanya satu dinasti kerajaan, yang memerintah Jawa Tengah kala itu dari mulai abad kedelapan hingga awal abad kesepuluh secara langsung telah menghilangkan anggapan yang terkait mengenai asal usul wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju ke Jawa Tengah, yang mungkin diharapkan untuk dapat menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun, ini sulit untuk dipastikan dengan fakta bahwa wangsa Sailendra muncul dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan wangsa Sanyaya sebelumnya sebenarnya menguasai dan memiliki wilayah lebih jauh ke utara.
Peran yang dimainkan oleh orang Indonesia dalam proses ini tampaknya tidak hanya terbatas pada mengadopsi dan mencerna unsur-unsur budaya India, tetapi juga melibatkan kebudayaan aslinya. Asumsi kontak terus menerus, atau setidaknya teratur, akan membantu menjelaskan munculnya kerajaan tertua di berbagai bagian negara. Namun, keterlibatan leluhur pribumi dalam silsilah raja yang memerintah, yang mengeluarkan dekrit, hanya dapat dianggap mencerminkan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan - kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama sebelumnya. Kenyataannya, dekrit - dekrit itu, yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang - orang yang dituju kecuali jika mereka sudah dapat menghargai bahasa yang cukup asing ini, yang sekarang digunakan dalam dokumen-dokumen resmi.
Sejarah paling awal Indonesia ditandai dengan kebangkitan mendadak, dan akhir yang tiba - tiba, dari kerajaan-kerajaan tertua. Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad kelima) dan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad kelima), masing - masing memiliki dekrit kerajaan, yang dikeluarkan oleh satu raja. Keberadaan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui dari satu dokumen, Prasasti Dinoyo tahun 760 M. Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih berkelanjutan tersedia di Jawa Tengah, dimulai dengan prasasti Changgal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh. Dari pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal sebagai periode Jawa Timur. Meskipun Sumatera dan Bali juga berkontribusi dalam pembuatan sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwanya adalah dokumenter tercantum dalam prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menjadi istilah yang diterima dalam berurusan dengan monumen dan patung dalam sastra.
Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan tertulis bahwa 'Bhumi Sambhara Budhalra' dan 'Kamulan' adalah menyebutkan candi Borobudur yang dibangun kurun waktu antara tahun 760 dan 830 M, pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra yang berada di Jawa Tengah, yang masih dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun dan telah di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, hal ini disebutkan melalui temuan prasasti Sojomerto yang menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi-candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja yang beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang ada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 Masehi. Pembangunan candi Buddha, termasuk Borobudur, pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.
Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Penemuan Borobudur
Tidak diketahui secara pasti berapa lama Chandi Borobudur digunakan, atau kapan berhenti berfungsi sebagai monumen untuk memuliakan kebesaran dinasti kerajaan yang berkuasa dan, pada saat yang sama, sebagai pusat ziarah agama Buddha.
Asumsi umum adalah bahwa chandi Borobudur tidak digunakan lagi pada saat masyarakat mulai masuk Islam pada abad kelima belas. Tetapi hal ini sangatah masuk akal bahwa monumen-monumen di Jawa Tengah telah ditinggalkan pada awal abad ke-10 ketika kepentingan sejarah bergeser ke Jawa Timur. Jika demikian, Chandi Borobudur dibiarkan nasibnya beberapa abad lebih awal dari Monumen Jawa Timur. Terlepas dari waktu yang tepat di mana chandi kehilangan signifikansinya dalam masyarakat yang berubah, mereka harus ditemukan kembali satu per satu sebelum pengetahuan kita saat ini tentang mereka mulai terakumulasi.
Tetapi mereka tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan orang-orang. Dalam beberapa hal, masa lalu yang gemilang dan monumen-monumen yang telah menyaksikannya selalu dikenang, dan terutama oleh penduduk desa yang tinggal di dekatnya. Chandi masih berperan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perubahan kepercayaan tentu saja menyebabkan perubahan bertahap dalam sikap mereka terhadap monumen, terbukti dari cara orang mengabaikannya. Namun, seperti ketidakpedulian bukanlah merupakan suatu penjelasan yang utama.
Sebuah kepercayaan takhayul secara bertahap menghubungkan reruntuhan yang tidak jelas dengan nasib buruk dan kesengsaraan. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Pulau Jawa) Bukit Borobudur terbukti fatal bagi seorang pemberontak yang berdiri di sana ketika dia memberontak melawan raja Mataram pada tahun 1709 M. Bukit itu dikepung, dan pemberontak itu dikalahkan. Dia dibawa sebagai tawanan ke hadapan raja, yang menjatuhkan hukuman mati.
Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram) menceritakan nasib buruk putra mahkota Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1757. Terlepas dari pembatasan yang berlaku untuk mengunjungi Chandi Borobudur, dia merasa kasihan pada 'ksatria yang ditangkap dalam sangkar' (patung di salah satu stupa berlubang) sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk datang menemui 'sahabatnya yang malang'. Begitu dia kembali ke istana, dia meninggal secara tak terduga setelah satu hari sakit. Baru pada tahun 1814 Chandi Borobudur muncul, secara nyata dan kiasan, dari masa lalunya yang kelam.
Antara 1811 dan 1816 Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris. Wakil Pemerintah Inggris adalah Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik dengan masa lalu Jawa. Pada tahun 1814, dalam sebuah perjalanan inspeksi di Semarang, ia diberitahu tentang keberadaan sebuah monumen besar, yang disebut Chandi Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Dia tidak bisa datang dan mengirim Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang mempumyai keahlian berpengalaman dalam menjelajahi barang antik di Jawa, untuk menyelidiki. Cornelius mempekerjakan sekitar 200 orang untuk membersihkan dengan menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah di mana lokasi monumen itu dibangun yang sudah lama terkubur. Dalam dua bulan ia telah menyelesaikan pekerjaannya, meski banyak beberapa bagian dinding galeri yang belum bisa digali karena bahaya runtuh. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar.
Dua jilid History of Java-nya yang terbit pada tahun 1817 hanya mencurahkan beberapa kalimat untuk monumen itu. Bab tentang barang antik sangat singkat, karena ia bermaksud untuk menerbitkan secara terpisah 'Account of the Antiquities of Java'. Ini sebenarnya tidak pernah muncul. Namun, Raffles tetap sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Chandi Borobudur dari pelupaan, dan telah membuatnya diketahui oleh banyak orang.
Administrator Belanda di wilayah Kedu, Hartmann tertentu, adalah salah satu penguasa yang memberi perhatian khusus pada Chandi Borobudur. Dia mengatur pemindahan lebih lanjut dari puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh monumen dibebaskan dari penutup terakhirnya yang rusak. Sangat disayangkan Hartmann tidak menulis laporan tentang kegiatannya, sehingga apa yang diketahui tentang mereka hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Sangat disesalkan bahwa cerita tentang dugaan penemuan batu Buddha di stupa utama telah menyebabkan perselisihan tanpa akhir.
Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap interior kubah besar. Apa yang sebenarnya dia temukan tidak diketahui, tetapi laporan Wilsen tahun 1853 menyebutkan seorang Buddha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada patung seperti itu yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa patung itu ditempatkan di sana oleh pejabat distrik asli untuk memuaskan administrator Belanda. Hartmann tertarik pada Chandi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah, tetapi Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang dikirim secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar. detail arsitektur dan reliefnya.
Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat deskripsi rinci, yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan diterbitkan dan dilengkapi dengan gambar-gambar Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar Wilsen, dengan studi Brumund sebagai suplemen. Pemerintah kemudian harus menunjuk sarjana lain dan memilih Leemans yang, pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund dan menyusun monografi yang akan dilengkapi dengan gambar Wilsen. Tetapi ketika monografi itu akhirnya muncul di media cetak pada tahun 1873 (diikuti dengan terjemahan bahasa Prancis pada tahun 1874), semua bahan yang tersedia di Candi Borobudur telah tersedia untuk umum. Informasi diberikan pada setiap detail monumen, dan Chandi Borobudur tidak akan pernah lagi terlupakan.
Asal Nama Borobudur
Monumen-monumen yang berasal dari periode kuno sejarah Indonesia biasanya disebut chandi, terlepas dari apa tujuan awalnya. Monumen tersebut tidak hanya mencakup bangunan candi, tetapi juga hal-hal seperti gerbang dan tempat mandi.
Dalam penjelasan kebanyakan chandi nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa-desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka. Banyak dari warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tidak heran jika chandis hanya disebut desa terdekat. Beberapa, bagaimanapun, telah mempertahankan nama mereka; dalam kasus seperti itu desa ini dinamai menurut nama chandi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Chandi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.
Dalam kronik Jawa abad kedelapan belas disebutkan tentang sebuah bukit yang disebut Borobudur. Sir Thomas Stamford Raffles 'penemu Borobudur', diceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan sebuah monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Tetapi belum ada dokumen kuno yang ditemukan yang memuat nama ini.
Sebuah manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, yang disebut Nagarakrtagama dan disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Buddha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Sebuah desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari monumen.
Nama kata 'Boro-Budur' sulit dijelaskan. Menganggapnya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut. kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Buddha Agung. Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Buddha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili Kata Lama Kata Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Banyak Buddha memiliki klaim yang sama.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya. Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh almarhum Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan berarti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah terjadi. , ia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak bisa lain dari Borobudur itu, dan bahwa perubahan nama yang sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan.
Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno disebut candi. Istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebut semua bangunan kuno yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, seperti gapura dan petirtaan (kolam dan pancuran).
Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang sebuah monumen bernama Borobudur, tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
![]() |
Candi Borobudur, pemandangan alami dari Bukit Dagi sebelah barat laut di pagi hari dengan latar belakang perbukitan menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Nama Borobudur berasal dari dua kata, adalah "bara" dan "beduhur". Kata "bara" berasal dari kata "vihara" atau "biara", dalam bahasa Sansekerta berarti “candi”. Kata "beduhur" berarti "tinggi", dalam bahasa Bali.
Menjelaskan nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis dengan BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro). Pada umumnya hampir kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G.de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama kurang lebih sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani.
Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut dengan kata Bhūmisambhāra. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan para leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli dari Borobudur.
Pemugaran Borobudur
Pemugaran Candi Borobudur secara terperinci pernah dilakukan oleh Van Erp, akan tetapi pemugaran itu tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun, dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakan beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.
Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, akan tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang utuh. Pada akhir 1960-an, diambil langkah untuk pemugaran hingga kemudian Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada dunia internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi monumen ini.
Proyek Pemugaran pada tahun 1973, dengan rencana utama adalah untuk memulihkan Borobudur telah dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.
Pondasi diperkukuh dan segenap 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisan saringan dan9 kedap air ditambahkan.
![]() |
Penanaman beton dan pipa PVC, system drainase pada pemugaran tahun 1973. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Proyek besar ini melibatkan sekitar 600 orang untuk memulihkan monumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah pemugaran UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.
Sebagai warisan budaya dunia Chandi Borobudur dengan kriteria sebagai Situs Warisan Dunia sebagai berikut:
(i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yang jenius",
(ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktu tertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi, seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", dan
(vi) "secara langsung dan jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan atau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki makna universal yang luar biasa".
![]() |
Chandi Borobudur Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Candi Borobudur
Secara administratif candi Borobudur berada dan terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, sekitar 3 km dari Kota Mungkid, ibukota Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Sistem struktur piramida berundak dari susunan blok batu andesit saling mengunci, dengan ukuran luas dasar 123×123 meter, tinggi kini 35 meter, tinggi asli 42 meter (termasuk chattra). Desain dan konstruksi Arsitek Gunadharma.
Arsitektur Borobudur merupakan sebuah bentuk mahakarya estetika dalam agama Budha di Indonesia, sebagai lambang puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni rupa Budha di Jawa.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur, membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Chandi Borobudur.
Mengunjungi dan berwisata lebih menyenangkan, menjelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.






Comments
Post a Comment