Skip to main content

RELIEF CERITA LALITAVISTARA


Candi Borobudur kaya akan cerita relief, terdapat 1.460 ukiran pahatan cerita dan 1.212 ukiran dekoratif yang indah dan elok. Menggambarkan nilai seni estetika kebudayaan agama Buddha adalah cerita pada dinding utama berkisah tentang riwayat kehidupan Sidharta Gautama, yang diambil dari teks Lalitavistara. Lalitavistara adalah merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa (Kijang) dekat kota Banaras.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Lalitavistara pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief Lalitavistara Borobudur

Relief Lalitavistara berjumlah 120 panel berderet dari tangga pintu masuk utama sebelah timur dan untuk membaca relief ini pengunjung berjalan melalui rangkaian lorong dinding utama dengan cara Pradaksina yaitu berjalan mengelilingi lorong searah jarum jam. Berjalan kearah selatan, panel relief pada lorong lantai 2 dinding utama candi Borobudur pada panel relief deretan atas cerita dimulai.

Dalam menyimak deretan panel relief, pengunjung dapat melihat dan membaca deretan relief sebanyak 27 pigura dari 120 panel cerita yang mempunyai nilai religius tentang kehidupan Sidharta Gautama dimulai. Ke-27 pigura panel relief cerita Sidhartha tersebut menggambarkan cerita tentang kesibukan, baik di surga maupun didunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisatwa sebagai calon Buddha. Relief-relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Budha di Arcapada, ini sebagai Pangeran Sidhartha, putra Raja Sudhodana dan Permaisuri Maya dari kerajaan Kapilawastu.

Relief cerita Lalitavistara tersebut berjumlah sebanyak 120 pigura, dengan cerita pada panel relief yang berakhir dengan Sidhartha, setelah mendapatkan pencerahan dibawah pohon Bodhi, kemudian dilanjutkan dengan memberikan wejangan untuk pertama kali, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, yaitu ajaran Sang Budha yang disebut dharma yang berarti "hukum", sedangkan ajaran dharma dilambangkan sebagai roda.

Kitab Lalitavistara pada dasarnya kitab yang lama atau tua yang ditulis kurang lebih sekitar abad pertama sampai sekitar abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa cerita yang isinya tentang aspek-aspek yang tua yang berasal dari legenda-legenda lisan, dan elemen-elemen yang berkembang belakangan, atau cerita yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lengkap dan lebih tua.

Kitab ini sangat terkenal bagi kalangan umat Buddha Mahayana dan Buddha Wajrayana, tetapi kurang begitu banyak diketahui bagi Buddhisme Therawada. Di antara semua seri panel relief yang ada di candi Borobudur, untuk identifikasi cerita panel relief tentang Lalitavistara adalah yang paling lengkap. Beberapa panel-panel relief dalam kitab Lalitavistara dirangkum sebagai berikut:

Lalitavistara

Awal kelahiran terakhir Buddha
Panel relief dinding utama lorong kedua diceritakan dalam suatu ketika pada saat para Dewa yang berada di surga Tusita telah memberikan ijin dengan mengabulkan permohonan bagi Bodhisatwa untuk turun ke dunia dan akan lahir kembali menjadi seorang Buddha, dengan tujuan untuk memberikan bimbingan kepada manusia yang tersesat dan untuk mengembalikan ke jalan yang benar. Dengan menjelma dalam bentuk sebagai manusia bernama Buddha Gautama, Sidharta.

Didalam istana kerajaan Kapilawastu Raja Sudhodana dan Ratu Maya sedang dalam percakapan yang mendalam tentang keinginan untuk mendapatkan dan mempunyai seorang putra. Keinginan tersebut membuat keduanya untuk bermeditasi, untuk mendapatkan keturunan. Dalam suatu waktu yang telah disebutkan, didaam istana kerajaan, Dewi Maya permaisuri Sudhodana, Raja dari Kapilavastu mendapatkan sesuatu tentang bermimpi melihat seekor gajah putih dengan bentuk  bertaring enam, kemudian masuk menyusup, ke tubuhnya. Gajah putih di dalam mimpi itu turun dari surga Tusita dengan mengendarai bunga teratai yang tak lain adalah Bodhisatwa sendiri. Bersamaan dengan kejadian itu dewa-dewa menyampaikan rasa hormat yang dalam dengan menyembahnya.

Kemudian dengan kejadian datangya sebuah mimpi yang belum bisa diterjemahkan, menimbulkan keinginan Dewi Maya untuk menceritakan mimpinya kepada Raja Sudhodana, dikarenakan tidak tahu apa arti dari mimpinya. Demikian halnya dengan Raja Sudhodana, setelah berpikir dan merenungkan mimpi tersebut, akhirnya diputuskan utuk menanyakan arti mimpi itu kepada orang yang bijak, orang yang berilmu damai hati yaitu seorang Brahma yang bernama Asita.

Dijelaskan pada kesempatan tersebut bahwa Dewi Maya permaisuri, akan mendapatkan anugerah yaitu sedang mengandung anak calon raja dunia. Didalam hati Dewi Maya sangat gembira tetapi keinginan agar kelak putranya menjadi seorang bijak Brahma belum didapatkan. Akan sangat berbeda penjelasan Brahma yang membuat perasaan hati Raja Sudhodana merasa sangat bergembira, karena untuk waktu yang cukup lama Raja Sudhodana mendambakan putra, yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan raja selanjutya. Hal yang menggembirakan disambut dengan suka cita bagi Raja Sudhodana dan kemudian dilaksanakan dengan berbagi yaitu memberikan hasidah kepada Asita dan Brahmana lainnya. Atas peristiwa ini, para Dewa menawarkan surga kepada Dewi Maya.

Dalam perjalanan mengandung putra raja, dalam kehidupan di istana banyak keajaiban datang. Oleh para Dewa, Dewi Maya diperlihatkan tiga istana atau tiga tempat sekaligus, yang istana itu untuk menggambarkan ajaran Trikaya, yaitu: ajaran Dharmakaya, ajaran Sambhogakaya dan ajaran Nirmanakaya. Sebelum waktu akan datangnya kelahiran Budha, di dalam istana Dewi Maya mampu melakukan berbagai keajaiban, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang disekitar istana yaitu di antaranya mampu mengobati orang sakit dan orang cacat. Suatu keajaiban juga terjadi didalam istana, ketika pada saat singa dan gajah yang berada di luar istana menyembah Raja Sudhodana.

Ketika menjelang kelahiran, persiapan di dalam istana dimana Dewi Maya menuju dengan melakukan perjalanan untuk melahirkan Bodhisatwa. Dewi Maya memberikan kelahiran dengan posisi berdiri dan memegang dahan pohon yang berada di Taman Lumbini. Pada saat Bodhisatwa lahir, terdapat dua arus air yang turun dari langit, arus air yang satu dingin dan arus air lainnya hangat. Arus tersebut kemudian mengguyur membasahi tubuh Sidharta. Pada saat itu dalam keadaan Sidharta lahir bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung melangkah ke arah utara. Tempat dimana dirinya berdiri, ditumbuhi bunga teratai. Seminggu setelah kelahiran tersebut, diceritakan permaisuri Dewi Maya meninggal dunia.

Masa kecil dan remaja Pangeran Sidharta

Asita meramalkan lagi bahwa kelak Pangeran Sidharta akan menjadi orang suci yaitu Buddha. Dengan ramalan tersebut membuat pikiran raja Sudhodana menjadi cemas. Kekhawatirannya  karena jika Siddharta tumbuh besar akan menjadi budha, maka kerajaan Kapilavastu tidak mempunyai raja dan tidak ada yang mewarisi. Oleh sebab itu para pertapa menyarankan, kepada raja Sudhodana agar pangeran Sidharta dijauhkan dari empat peristiwa tentang kehidupan. Bila tidak, kehidupan yang dijalani membuat dia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha.

Dari masa kecil Pangeran sudah menunjukkan hal yang berbeda dengan anak yang lain yaitu tumbuh sebagai anak yang cerdas dan pandai. Pada saat mencapai usia tujuh tahun, pangeran tertarik untuk mempelajari tentang ilmu pengetahuan. Diceritakan, bahwa wajah pangeran dipenuhi dengan sinar terang, sehingga pada saat pertama kali masuk sekolah membuat sang guru pingsan, karena melihat wajah pangeran yang bersinar. Di usia 16 tahun, tibalah bagi Sidharta untuk mendapatkan jodoh, dengan memberikan cincin dan menikah dengan Puteri Yasodhara, yang dipersunting setelah Sidharta memenangkan beberapa sayembara. Kemudian Sang Pangeran mendapatkan kehormatan diberi tiga buah istana yang khusus, yaitu: Istana musim dingin (Ramma), Istana musim panas (Suramma) dan Istana musim hujan (Subha). Hal ini dilakukan ayahnya, Sudhodana berhubungan dengan perkataan saran pertapa agar anaknya itu tidak diperbolehkan melihat empat peristiwa tentang kehidupan.

Empat pertemuan dan pelepasan agung Sidharta

Setelah beberapa saat lamanya, kehidupan Sidharta sebagai Pangeran anak raja, hidup di tiga istana yang megah dengan segala sesuatu yang terpenuhi. Sidharta banyak mendapatkan segala keingian terpenuhi seperti makanan, minuman, pakaian, pelayan yang setia dan selalu di jaga oleh pengawal kerajaan, tidaklah membuat kehidupannya lebih baik dikarenakan perasaan bosan selalu berada di istana. Oleh sebab itu terbersik dipikirannya untuk bisa melihat keadaan di luar istana.

Suatu hari Bodhisatwa mempunyai keinginan untuk melihat keluar istana,  sehingga meminta izin untuk berjalan di luar istana. Di luar istana kehidupan sangat berbeda, dengan beberapa pengawal kerajaan dimana pada kesempatan ditemui diluar istana tersebut, dilihatnya empat kondisi kehidupan yang sangat berarti dan nyata, yaitu: Orang tua, Orang sakit, Orang mati dan Orang suci. Melihat hal tersebut, tersirat dalam pikirannya didalam hati bahwa sebenarnya perasaan Sidharta sangat bersedih. Sesaat dalam perenungan keinginnan untuk mengetahui membuatnya menanyakan pada dirinya sendiri tentang apa arti kehidupan ini. Dirinya berpikir, bahwa pertemuan dengan orang suci adalah tentang kehidupan suci yang akan menjawab sebenarnya apa arti hidup.

Didalam kehidupannya, pemikiran dan perenungan tentang empat kehidupan yang dilihatnya telah mengantarkan dalam kehidupannya selama 10 tahun bahwa dirinya hidup dalam berbagai macam bentuk kehidupan duniawi. Pergolakkan hati yang dialami Sidharta berjalan terus sehingga pada suatu ketika saat berusia 29 tahun, dan itu tepat bersamaan dengan kelahiran anak pertamanya. Pada suatu malam, keinginannya untuk keluar dari istana mendapatkan kesempatan dirinya, Bodhisatwa memutuskan untuk keluar meninggalkan istana. Pengawal pembawa kuda mengantarkan dirinya membantu Sidharta, dirinya akan bertekad bulat untuk mencari dan melakukan pelepasan yang agung dan hidup sebagai seorang pertapa.

Dalam pencariannya sebagai pertapa, Sidharta mendapat kesempatan untuk berguru pada Alara Kalama. Tidaklah lama, karena merasa bahwa selama berguru, semua yang telah dilakukan dan dipelajari itu sia-sia, maka dirinya memantapkan diri untuk melakukan meditasi pertapaan dengan ditemani oleh lima orang muridnya. Selama pertapaannya, hal ini banyak perubahan dengan tubuhnya, membuat badannya menjadi kurus hingga tulang. sampai tidak kuat menopang tubuh Bodhisatwa.

Diceritakan pada suatu ketika datanglah seorang perempuan yang bernama Sujana, dengan memberikan semangkuk bubur susu kepada pertapa Sidharta. Agar tubuhnya kembali segar. Beberapa saat kekhawatiran muncul dari Dewi Maya, karena tidak tega melihat penderitaannya, ibunya Dewi Maya turun dari surga ke bumi untuk mengakhiri pertapannya. Dengan memberikan makanan kepada Sidharta melalui pori-pori kulitnya untuk mengembalikan kesehatan tubuhnya. Siddharta saat itu mengakhiri pertapaannya dan kemudian menuju ke sungai Nairanjana untuk mandi. Dalam kesempatan yang baik itu Sidharta bertekad untuk mencapai pencerahan dan Pemutaran Roda Dharma Perdana Buddha.

Bodhisatwa dalam keadaan merasa tubuhnya sangat lemas dan maut hampir merenggut jiwanya. Namun, karena dengan keinginan dan tekad yang sekuat baja akhirnya Bodhisatwa melajutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi.

"Meskipun dagingku busuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Sampai aku mencapai pencerahan sempurna".

Diceritakan juga dengan berbagai tipu daya yaitu upaya Dewi Mara untuk menghentikan dan menggagalkan pertapaannya. Namun dengan segala daya upaya Bodhisatwa, datanglah keajaiban dan semua mara bahaya yang muncul untuk menggagalkan pertapaannya, dapat disingkirkan dengan mengubah setiap godaan menjadi bunga. Dan saat itu, tibalah saatnya bagi Bodhisatwa untuk mencapai pencerahan sempurna. Bodhisatwa akan menerima kebijaksanaan tertinggi yang membimbing keselamatan terakhir dan telah menjadi Budha tepat saat bulan purnama tahun 531 SM Hari ke delapan bulan ke 12.

Pada saat mencapai pencerahan sempurna, terlihat dalam tubuhnya memancarkan sinar. Sinar yang berwarna biru mempunyai arti bakti, warna kuning artinya tentang kebijaksanaan dan pengetahuan, warna merah yang artinya kasih sayang dan belas kasih, sedangkan putih itu berarti suci.

Setelah Bodhisatwa menerima pencerahan yang sempurna, dengan santun Bodhisatwa menemui kelima temannya yang dahulu pernah menemaninya dan mengangkat mereka menjadi murid-murid pertamanya. Dan diceritakan pada kesempatan yang berbahagia, kelima murid itulah yang untuk pertama kalinya mendengarkan khotbah wejangan Buddha, yaitu ajaran penyelamatan.

Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Diambil dan ditulis kembali dari Materi Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide.


Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments

Popular posts from this blog

Menjelajahi Borobudur

S angat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Chandi Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan salah satu Situs Warisan Budaya Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, Pamong Carita di Borobudur dalam kesempatan yang sangat menyenangkan ini akan memberikan narasi dan penjelasannya sebagai apresiasi untuk mengenal dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa warisan budaya leluhur. Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan warisan budaya masa lalu yang memiliki nilai dan makna luhur dalam sejarah bagi masyarakat Indonesia, yang membuat semua mata terkesima akan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Dibukanya kembali bangunan ini untuk wisata, merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa narasi tentang kebera...

Cagar Budaya Borobudur

S elamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai destinasi wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan mengantar dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi untuk pembelajaran dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur. Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata superprioritas. Dibukanya kembali bangunan ini untuk wisata, merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan ini dalam perjalanan wisata tematik Borobudur. Wisata dan kunjungan saat ini ...