Chandi Borobudur dan sekitarnya merupakan salah satu situs warisan budaya dunia sejak diresmikan pada tahun 1991. Bangunan ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia, menarik perhatian akan kemegahan dan keindahannya. Bangunan ini kembali membangkitkan antusiasme yang luar biasa untuk mengeksplorasi dan memperdalam tentang narasi sejarah, dan arsitektur bangunan ini dengan lebih baik.
Mempelajari budaya Borobudur bersama pamong carita merupakan langkah tepat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang wawasan dan nilai-nilai budaya bangunan ini. Berwisata mendalami narasi dan penjelasan tentang Borobudur sebagai apresiasi dalam menghargai dan mendukung upaya pelestarian warisan leluhur.
Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Budha berbentuk stupa yang dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Budha Mahayana, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari wangsa Syailendra. Candi Budha Mahayana terdiri atas enam teras bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, stupa terbesar berada ditengah, dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Borobudur dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana.
Chandi Borobudur
Lebih di kenal dengan Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, merupakan bangunan suci agama Budha. Menyebutkan nama Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha dalam bentuk posisi tangan mudra. Candi Budha Mahayana dengan arsitektur piramida berundak yang dibangun pada abad ke-9, masa pemerintahan Dinasti Sailendra, dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana.
Chandi Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi sesuai dengan ajaran Budha.
Para peziarah, masuk melalui pintu gerbang sisi timur mulai melakukan ritual, dengan berjalan searah jarum jam, kemudian naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Lokasi pembangunan Chandi Borobudur dipilih dengan sangat hati-hati. Candi ini didirikan di atas bukit alami di Dataran Kedu, diapit oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur, dan Pegunungan Menoreh di sebelah barat. Lokasi ini memiliki makna filosofis yang mendalam, melambangkan posisi Borobudur sebagai pusat alam semesta dalam kosmologi Budha.
Pembangunan Candi Borobudur merupakan pencapaian arsitektur dan teknik yang luar biasa pada masanya. Para pekerja harus mengangkut dan merakit lebih dari 2 juta blok andesit dari sungai dan pegunungan di sekitarnya. Blok-blok ini kemudian dirakit tanpa semen atau perekat, tetapi dengan sistem pasak dan kunci yang presisi.
Setelah selesai, Candi Borobudur menjadi pusat ziarah dan pembelajaran Buddha yang vital. Namun, seiring waktu, candi ini secara bertahap ditinggalkan. Beberapa teori menunjukkan bahwa hal ini disebabkan oleh pemindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur, letusan Gunung Merapi yang dahsyat, atau konversi masyarakat ke Islam.
Candi Borobudur kemudian terlupakan selama berabad-abad, tertutup abu vulkanik dan vegetasi hutan tropis. Baru pada tahun 1814, ketika Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles mengetahui keberadaan monumen besar ini. Ia kemudian mengirim tim untuk membersihkan dan memeriksa Candi Borobudur, menandai awal era penemuan kembali dan upaya pelestarian.
Chandi Borobudur Candi Budha Mahayana dibangun masa pemerintahan Dinasti Sailendra, dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi sesuai dengan ajaran Budha.
Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui rangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, Chandi Borobudur tidak lagi menjadi bangunan suci dan ditinggalkan mulai abad ke-14, dan kemudian ditemukan kembali untuk pertama kali oleh Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris di Jawa.
Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan candi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, dan Borobudur digunakan sebagai tempat untuk tujuan peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.
Sejarah Borobudur
Candi Borobudur sebagai bangunan suci yang berlatar belakang agama Buddha mempunyai banyak keindahan, keunikan dan serta kecantikan seni rupa yang luar biasa. Sebagaimana disebutkan keindahan bentuk kebudayaan monumen mempunyai gaya arsitektur seni rupa piramida berundak yang banyak disebut sebagai bangunan punden berundak nenek moyang Indonesia, arsitektur bentuk stupa dan dipadu dengan seni ukir pahatan relif di dinding bangunan suci candi.
Bangunan candi Borobudur dengan keunikan bentuk arsitektur yang terdiri dari teras - teras, berjumlah enam teras bujur sangkar dan pada bagian atas terdapat tiga pelataran dengan bentuk lingkaran, pada bagian puncak terdapat stupa besar dan pada dindingnya dihiasi dengan pahatan ukiran batu yang indah dengan jumlah 2.672 panil relief. Borobudur memiliki koleksi relief biografi Buddha, yaitu cerita kehidupan Sidharta Gautama sebanyak 120 panil relif yang terlengkap, dan bangunan ini mempunyai 504 arca Buddha.
Keberadaan candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dalam pembangunannya dibutuhkan waktu kurang lebih 100 tahun, yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga, dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M, antara tahun 760 dan 830 M, adalah masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya. Dokumen tertulis bagaimana tentang awal mula pembangunan Chandi Borobudur, referensi tentang kapan dan siapa yang membangunnya, dan untuk apa tujuan yang dimaksudkan. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti atau tulisan yang dipahatkan di batu tulis dan salah satu diatas relief pada 'kaki tersembunyi', merupakan tulisan yang memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti-prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.
Merupakan suatu kesimpulan yang cukup jelas adalah bahwa Chandi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan dalam sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 M, disebutkan adalah masa kejayaan dari Wangsa Syailendra. Hal ini menghasilkan banyak sejumlah besar monumen, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung Siva mendominasi di daerah pegunungan; daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha didirikan berdekatan.
Nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua, tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Chandi Borobudur.
Menyebutkan sejarah pembangunan Candi Borobudur membutuhkan kurang lebih antara 75 - 100 tahun, dan candi Budha ini selesai pada masa puncak pemerintahan Samaratungga pada tahun 824 M. Pada saat itu Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, yang dijelaskan dalam penemuan prasasti Sojomerto. Prasasti ini menunjukkan bahwa kemungkinan awalnya beragama Hindu-Siwa. Pada kurun waktu itu telah banyak dibangun berbagai candi-candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, yang berangka tahun 732 M, menjelaskan bahwa raja yang beragama Hindu-Siwa, yaitu Sanjaya memerintahkan untuk mendirikan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Budha Borobudur telah dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang ada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Candi Borobudur diperkirakan selesai sekitar tahun 824 M, yaitu dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya beberapa pembangunan candi Siwa - Prambanan pada tahun 850 Masehi. Pembangunan candi Buddha, termasuk Borobudur, pada saat itu, dijelaskan kemungkinan karena pewaris dari Sanjaya, yaitu Rakai Panangkaran telah memberikan izin sebagai bentuk toleransi kepada umat Buddha dalam membangun candi dan untuk menunjukkan bentuk penghormatannya, Panangkaran telah menganugerahkan desa Kalasan kepada Sangha (komunitas umat Buddha), dalam pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.
Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, pada saat itu agama bukan menjadi suatu permasalahan yang dapat menjadikan konflik. Sebagai contoh adalah bagi seorang raja penganut agama Hindu, dapat memberikan bantuan dan mendukung dalam hal pembiayaan untuk pembangunan candi Budha, hal ini demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Budha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian disebutkan wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.
Ketidakjelasan juga timbul mengenai Candi Lara Jonggrang yang berada di Prambanan, dan dipercaya dibangun oleh sang pemenang yaitu Rakai Pikatan sebagai jawaban atas Wangsa Sanjaya dalam menyaingi kemegahan Borobudur yang menjadi milik Wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak mempercayai bahwa terdapat suasana kehidupan toleransi dan kebersamaan yang penuh dengan kedamaian diantara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa yang berada di Prambanan.
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno disebut candi. Istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebut semua bangunan kuno yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, seperti gapura dan petirtaan (kolam dan pancuran).
Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang sebuah monumen bernama Borobudur, tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit. Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
![]() |
| Pemandangan Borobudur dari bukit Dagi Bangunan ini disebutkan dalam prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sekilas Nama Borobudur
Monumen-monumen yang berasal dari periode kuno dalam sejarah Indonesia biasanya disebut chandi, terlepas dari apa tujuan awalnya. Monumen tersebut tidak hanya mencakup bangunan candi, tetapi juga hal-hal seperti gerbang dan petirtaan.
Dalam penjelasan kebanyakan chandi nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa-desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka. Banyak dari warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tidak heran jika chandis hanya disebut desa terdekat. Beberapa, bagaimanapun, telah mempertahankan nama mereka; dalam kasus seperti itu desa ini dinamai menurut nama chandi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Chandi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.
Dalam kronik Jawa abad kedelapan belas disebutkan tentang sebuah bukit yang disebut Borobudur. Sir Thomas Stamford Raffles 'penemu Borobudur', diceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan suatu bangunan kuno monumen bernama Borobudur yang berada di desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Tetapi belum ada dokumen kuno yang ditemukan yang memuat nama ini.
Sebuah manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, yang disebut Nagarakrtagama dan disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Buddha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Sebuah desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari monumen.
Nama kata 'Boro-Budur' sulit dijelaskan. Menganggapnya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut. kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Buddha Agung. Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Buddha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili kata bahasa kuno Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Para Buddha' memiliki nama yang sama.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya. Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh almarhum Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan mempunyai arti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952.
Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang. Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi secara rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah itu terjadi, ia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak lain adalah Borobudur, dan perubahan nama yang sekarang terjadi dan disebutkan adalah melalui suatu penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan.
Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
Monumen-monumen yang berasal dari periode kuno dalam sejarah Indonesia biasanya disebut chandi, terlepas dari apa tujuan awalnya. Monumen tersebut tidak hanya mencakup bangunan candi, tetapi juga hal-hal seperti gerbang dan petirtaan.
Dalam penjelasan kebanyakan chandi nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa-desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka. Banyak dari warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tidak heran jika chandis hanya disebut desa terdekat. Beberapa, bagaimanapun, telah mempertahankan nama mereka; dalam kasus seperti itu desa ini dinamai menurut nama chandi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Chandi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.
Dalam kronik Jawa abad kedelapan belas disebutkan tentang sebuah bukit yang disebut Borobudur. Sir Thomas Stamford Raffles 'penemu Borobudur', diceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan suatu bangunan kuno monumen bernama Borobudur yang berada di desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Tetapi belum ada dokumen kuno yang ditemukan yang memuat nama ini.
Sebuah manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, yang disebut Nagarakrtagama dan disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Buddha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Sebuah desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari monumen.
Nama kata 'Boro-Budur' sulit dijelaskan. Menganggapnya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut. kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Buddha Agung. Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Buddha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili kata bahasa kuno Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Para Buddha' memiliki nama yang sama.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya. Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh almarhum Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan mempunyai arti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952.
Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang. Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi secara rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah itu terjadi, ia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak lain adalah Borobudur, dan perubahan nama yang sekarang terjadi dan disebutkan adalah melalui suatu penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan.
Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
Penemuan Borobudur
Tidak diketahui secara pasti berapa lama Chandi Borobudur digunakan sebagai tempat pribadatan bagi umat Budha, atau kapan berhenti berfungsi sebagai monumen untuk memuliakan kebesaran dinasti / wangsa kerajaan yang berkuasa dan, pada saat yang sama, sebagai pusat ziarah agama Buddha.
Asumsi umum adalah bahwa Chandi Borobudur tidak digunakan lagi pada saat masyarakat mulai masuk Islam pada abad kelima belas. Tetapi hal ini sangatah masuk akal bahwa monumen-monumen di Jawa Tengah telah ditinggalkan pada awal abad ke-10 ketika kepentingan sejarah bergeser ke Jawa Timur. Jika demikian, Chandi Borobudur dibiarkan nasibnya beberapa abad lebih awal dari Monumen Jawa Timur. Terlepas dari waktu yang tepat di mana chandi kehilangan signifikansinya dalam masyarakat yang berubah, mereka harus ditemukan kembali satu per satu sebelum pengetahuan kita saat ini tentang mereka mulai terakumulasi. Tapi mereka tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan orang-orang.
Dalam beberapa hal, masa lalu yang gemilang dan banguna candi-candi itu yang menyaksikannya selalu dikenang, dan terutama oleh penduduk desa yang tinggal di dekatnya. Candi sebagai suatu tempat suci masih berperan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perubahan kepercayaan itu tentu saja menyebabkan perubahan bertahap dalam sikap mereka terhadap monumen, terbukti dari cara orang mengabaikannya. Namun, dalam hal ini ketidakpedulian bukanlah suatu penjelasan utama. Salah satunya adalah kepercayaan takhayul yang secara bertahap menghubungkan reruntuhan yang tidak jelas dengan nasib buruk dan kesengsaraan.
Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Pulau Jawa) Bukit Borobudur terbukti fatal bagi yang mengunjungi candi, yang terjadi pada tahun 1709 M. Dalam cerita Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram) menjelaskan yang berkunjung di candi ini pada tahun 1757. Terlepas dari pembatasan yang berlaku untuk mengunjungi Chandi Borobudur, yaitu patung di salah satu stupa berlubang. Kemudian pada tahun 1814 Chandi Borobudur muncul, secara nyata dan kiasan, dari masa lalunya yang kelam.
Antara 1811 dan 1816 Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris. Wakil Pemerintah Inggris adalah Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik dengan masa lalu Jawa. Pada tahun 1814, dalam sebuah perjalanan inspeksi di Semarang, ia diberitahu tentang keberadaan sebuah monumen besar, yang disebut Chandi Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Karena berhalangan saat itu mengirim Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang mempumyai keahlian berpengalaman dalam menjelajahi barang antik di Jawa, untuk menyelidiki.
Cornelius mempekerjakan sekitar 200 orang untuk membersihkan dengan menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah di mana lokasi monumen itu dibangun yang sudah lama terkubur. Dalam dua bulan ia telah menyelesaikan pekerjaannya, meski banyak beberapa bagian dinding galeri yang belum bisa digali karena bahaya runtuh. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar.
Dua jilid History of Java-nya yang terbit pada tahun 1817 hanya mencurahkan beberapa kalimat untuk monumen itu. Bab tentang barang antik sangat singkat, karena ia bermaksud untuk menerbitkan secara terpisah 'Account of the Antiquities of Java'. Ini sebenarnya tidak pernah muncul. Namun, Raffles tetap sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Chandi Borobudur dari pelupaan, dan telah membuatnya diketahui oleh banyak orang.
Seorang pejabat Administrator Belanda di wilayah Kedu yang Hartmann, adalah salah satu penguasa yang memberi perhatian khusus pada Chandi Borobudur. Dia mengatur pemindahan lebih lanjut dari puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh monumen dibebaskan dari penutup terakhirnya yang rusak. Sangat disayangkan Hartmann tidak menulis laporan tentang kegiatannya, sehingga apa yang diketahui tentang mereka hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Sangat disesalkan bahwa cerita tentang dugaan penemuan batu Buddha di stupa utama telah menyebabkan perselisihan tanpa akhir.
Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap interior kubah besar. Apa yang sebenarnya dia temukan tidak diketahui, tetapi laporan Wilsen tahun 1853 menyebutkan seorang Buddha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada patung seperti itu yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa patung itu ditempatkan di sana oleh pejabat distrik asli untuk memuaskan administrator Belanda. Hartmann tertarik pada Chandi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah, tetapi Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang dikirim secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar. detail arsitektur dan reliefnya.
Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat deskripsi rinci, yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan diterbitkan dan dilengkapi dengan gambar-gambar Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar Wilsen, dengan studi Brumund sebagai suplemen. Pemerintah kemudian harus menunjuk sarjana lain dan memilih Leemans yang, pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund dan menyusun monografi yang akan dilengkapi dengan gambar Wilsen. Tetapi ketika monografi itu akhirnya muncul di media cetak pada tahun 1873 (diikuti dengan terjemahan bahasa Prancis pada tahun 1874), semua bahan yang tersedia di Candi Borobudur telah tersedia untuk umum. Informasi diberikan pada setiap detail monumen, dan Chandi Borobudur tidak akan pernah lagi terlupakan.
![]() |
| Stupa teras Arupadhatu. Stupa utama terbesar terletak ditengah dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sekilas Relief Jawa Kuno

Lansekap pedesaan sekitar BorobudurLansekap Pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Menjelaskan relief-relief dengan arti dan makna yang ada di Candi Borobudur yang berhubungan dengan apa yang dijelaskan dalam bentuk yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam beberapa hal yaitu meliputi rekonstruksi proses budaya, rekonstruksi sejarah budaya, dan rekonstruksi cara hidup dalam tempat savah, kbuan, tgal, gaga, renek. Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daerah-daerah seperti gunung dan bukit, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, pembuatan tembikar, dan bekas danau purba.
Relief Candi Borobudur menjelaskan melalui interpretasi yang menyebutkan prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna mempunyai kategori yang beberapa hal yaitu melalui rekonstruksi dalam proses budaya, rekonstruksi sejarah budaya, dan rekonstruksi tentang cara hidup pada daerah-daerah yang meliputi daerah lingkungan seperti sawah, kebun, tegal, gaga, dan renek. Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daetah sebagai berikut: Gunung dan bukit, Lingkungan pertanian, Permukiman dan rumah tradisional, Pembuatan tembikar, dan Bekas danau purba.
Lansekap pedesaan sekitar Borobudur Lansekap Pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menjelaskan relief-relief dengan arti dan makna yang ada di Candi Borobudur yang berhubungan dengan apa yang dijelaskan dalam bentuk yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam beberapa hal yaitu meliputi rekonstruksi proses budaya, rekonstruksi sejarah budaya, dan rekonstruksi cara hidup dalam tempat savah, kbuan, tgal, gaga, renek. Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daerah-daerah seperti gunung dan bukit, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, pembuatan tembikar, dan bekas danau purba.
Relief Candi Borobudur menjelaskan melalui interpretasi yang menyebutkan prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna mempunyai kategori yang beberapa hal yaitu melalui rekonstruksi dalam proses budaya, rekonstruksi sejarah budaya, dan rekonstruksi tentang cara hidup pada daerah-daerah yang meliputi daerah lingkungan seperti sawah, kebun, tegal, gaga, dan renek. Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daetah sebagai berikut: Gunung dan bukit, Lingkungan pertanian, Permukiman dan rumah tradisional, Pembuatan tembikar, dan Bekas danau purba.
Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.
Lansekap pedesaan Jawa Kuno dalam narasi sejarah menyebutkan lahan yang subur nan hijau yang sangat terkenal juga dengan keindahan alamnya sehingga disebut sebagai 'Taman Jawa'. Lansekap Borobudur didalamnya mempunyai atribut dalam lansekap pedesaan Jawa Kuno yang meliputi beberapa cakupan dan lebih menjelaskan pada daerah dan tempat lingkungan pertanian atau pengelolaan lahan. Lansekap pedesaan dalam Candi Borobudur dijelaskan dalam panil relief cerita mengenai relief pertanian, pada dinding dan langkan.
Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah tadah hujan, Ladang / tegalan, Kebun dan Hutan. Dalam lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan sawah dijelaskan dalam pengelolaanya bahwa menyebutkan sawah oleh masyarakat Jawa Kuna pada abad IX-X M tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk kebutuhan menghidupi suatu bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.
Menjelaskan makanan pokok pada masa Jawa Kuno pada daerah yang disebutkan dalam lingkungan pertanian pada masa itu lebih pada pengolahan padi sebagai bahan makanan pokok. Pada saat itu masyarakat Jawa Kuna abad IX-X M telah mengenal cara-cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang diliwet dengan periuk, dyun adalah belanga atau kuali besar (periuk) yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak sayur atau menanak nasi.
Dalam pengolahan makanan dan pembuatan minuman pada masa Jawa Kuno meliputi beberapa bentuk. Pengolahan makanan seperti pada olahan Dodol. Dodol adalah salah satu jenis makanan yang dikenal oleh masyarakat Jawa Kuna abad IX-X M, beberapa macam olahan adalah yang disebut dwa-dwal atau dodol. Olahan makanan ini disebutkan dalam Ramayana Jawa Kuna menurut penjelasan Poerbatjaraka.
Dalam pengolahan minuman, di contohkan yaitu pengolahan tanaman tebu yang oleh masyarakat Jawa Kuna juga dikenal sebagai bahan dasar untuk minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhū. Siddhū atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada upacara penetapan sima, antara lain disebut dalam Prasasti Sangguran tahun 928 M.
Rumah Pedesaan Borobudur
Penggambaran relief yang terpahat pada dinding Borobudur salah satunya adalah mendirikan bangunan rumah pedesaan dengan bahan dari kayu. Relif Karmawibhangga adalah yang menyimpan cerita pembangunan rumah pedesaan pada masa Jawa Kuno. Berdasarkan penjelasan dalam prasasti, orang yang berprofesi membuat bangunan, di antaranya, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
![]() |
Undakan tangga naik Borobudur Tangga naik, berbentuk undakan disetiap pintu masuk Borobudur melalui gapura dengan dekorasi Kala Makara. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.



Comments
Post a Comment