Terlihat sebuah profil yang berbaring di punggung bukit, hidung, bibir dan dagu tergambar dengan jelas. Keunikan yang tidak luput dari perhatian dengan sebuah cerita yang menggambarkan tentang Gunadharma, arsitek Chandi Borobudur, menurut tradisi yang diyakini, untuk menjaga ciptaannya selama berabad-abad.
Gunadharma adalah cerita atau legenda tentang perbukitan Menoreh. Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa. Gunadharma dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.
Kemiripan dengan profil seperti gambar seorang pria berbaring di punggung bukit, bentuk hidung, bibir, dan dagu yang digambarkan dengan sangat jelas. Pemandangan ini menjadi satu legenda, menurut tradisi setempat, cerita tentang perbukitan Menoreh yang menggambarkan tubuh seorang arsitek Borobudur, bernama Gunadharma dan menurut cerita diyakini melindungi ciptaannya selama berabad-abad.
![]() |
Legenda Gunadharma Namanya berdasarkan dongeng dan legenda Jawa, cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang yang berbaring. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide |
Arsitektur Candi Borobudur
Arsitektur Borobudur yang ditampilkan merupakan mahakarya seni rupa Budha Indonesia, sebagai salah satu penggambaran puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.
Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. Tentu saja satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada monumen ini.
Dalam penelitian pada tahun 1977 mengungkapkan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan yaitu swa-serupa dalam rancangan Borobudur. Rasio matematis ini juga dapat ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Candi Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna didalam penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di Kamboja.
Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi. Arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang.
Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.
Rancang Bangun
Chandi Borobudur dibangun dan berada di atas bukit alami yang panjang punggungannya diratakan dan diubah menjadi dataran tinggi. Bagian utama dari dataran tinggi membentuk suatu situs monumen. Tembok-tembok yang berada di puncak bukit ini yang pada awalnya masih utuh. Dataran dipadatkan pada sisi barat laut bukit yang menyediakan tempat untuk biara. Dataran tinggi sekitar 15 m lebih tinggi dari dataran sekitarnya, dan puncak bukit naik sekitar 19 m di atas dataran tinggi. Di sekitar dan di atas puncak bukit itulah monumen itu dibangun. Akan tetapi, diperlukan penimbunan yang cukup banyak, karena puncak bukit tidak cukup untuk dijadikan sebagai inti struktur.
Chandi Borobudur benar-benar berbeda dari desain umum struktur seperti itu. Itu bukanlah sebuah bangunan yang didirikan di atas dasar datar dan mendatar, yang menyisakan ruang dalam untuk pentahbisan sebuah patung, melainkan sebuah piramida berundak, yang terdiri dari sembilan teras bertumpuk, dan dimahkotai oleh sebuah stupa besar berbentuk lonceng.
Namun, teknik membangunnya sama dengan yang digunakan dalam konstruksi chandis dari batu. Bahan bangunan tidak dikumpulkan dari tambang, tetapi diambil dari sungai tetangga. Batu-batu itu dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, diangkut ke lokasi, dan diletakkan tanpa mortar. Batu-batu itu dibuat untuk digenggam dengan cara pas di sambungan horizontal, dan tanda di sambungan vertikal. Penggunaan kenop di satu batu yang cocok dengan lubang yang sesuai di sisi berikutnya juga sangat sering. Pengaturan ini memungkinkan fleksibilitas tertentu, sehingga monumen dapat berdiri dengan gerakan ringan tanpa mengalami bahaya keruntuhan langsung. Ketika bangunan selesai, ukiran dan hiasan lainnya ditambahkan. Biasanya mereka mulai dari atas, tetapi bisa juga ditambahkan secara bersamaan di beberapa bagian.
Desain strukturalnya rumit tetapi pembagian vertikal utama menjadi tiga bagian (alas, badan, dan atas) terlihat jelas. Dasarnya membentuk bujur sangkar dengan tonjolan. Persegi itu sendiri berukuran 113 m x 113 m, dimensi keseluruhannya adalah 123 m x 123 m. Dinding dasar setinggi 4 m ditopang oleh pijakan, menyerupai alas besar - tinggi 1,5 m dan lebar 3 m. Tubuh atau bagian tengah monumen terdiri dari lima teras, yang ukurannya berkurang seiring dengan tingginya. Seolah-olah untuk menekankan perubahan dari satu bagian ke bagian lain, yang pertama dari teras ini berdiri kembali sekitar 7 m dari sisi dasar, menciptakan platform yang luas tepat di sekeliling monumen. Teras lainnya mundur hanya 2 m di setiap tahap, dan langkan di sisi luar mengubah galeri sempit menjadi koridor.
Superstruktur pada bangunan ini sangat dibedakan dari teras. Ini terdiri dari tiga platform melingkar masuk kembali, yang masing-masing mendukung deretan stupa berlubang. Melewati deretan stupa, yang disusun dalam lingkaran konsentris, kubah pusat di atas seluruh monumen menjulang ke langit hingga ketinggian hampir 35 m di atas permukaan tanah. Akses ke bagian atas monumen disediakan oleh tangga di 15 tengah setiap sisi piramida. Melalui serangkaian gerbang (yang sebagian besar telah hilang di setiap tingkat), sebuah tangga mengarah langsung ke platform melingkar, pada saat yang sama memotong koridor teras persegi.
Pintu masuk utama berada di sisi timur. Tangga juga ditemukan di lereng bukit, menanjak dari dataran rendah ke dataran tinggi, dan menghubungkan dengan tangga tugu melalui jalan beraspal. Pintu masuk dijaga oleh singa batu; singa lain menonton di berbagai tingkat piramida - total 32 patung singa. Pembangun Chandi Borobudur menyadari perlunya sistem drainase karena hujan lebat. Spouts disediakan di sudut-sudut panggung pemasangan untuk mengalirkan air hujan dari galeri. Semua 100 cerat diukir dengan indah dalam bentuk makaras (gargoyle). Karena Borobudur sangat berbeda dari semua candi lain di Indonesia, sering dikatakan bahwa itu adalah stupa dan bukan candi sama sekali.
Stupa pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan untuk relik Sang Buddha. Belakangan, sangat mungkin bahwa sisa-sisa tubuh orang suci Buddhis terkemuka diabadikan dalam stupa-stupa tersebut. Kadang-kadang sebuah stupa didirikan hanya sebagai simbol dari keyakinan Buddhis.
Chandi terutama dimaksudkan untuk menampung dewa, tetapi relik sangat penting untuk berfungsinya. Bagian-bagian tertentu dari chandi disisihkan untuk kotak relik. Namun relik tersebut bukanlah sisa-sisa tubuh, tetapi logam, batu mulia, dan biji-bijian, yang benar-benar dimaksudkan sebagai kenang-kenangan dewa, secara simbolis mewakili kekuatan ilahi. Tidak ada relik semacam itu. belum ditemukan di candi Borobudur, peninggalan orang suci, atau kenang-kenangan dari dewa. Tidak mungkin sisa-sisa jasad diabadikan di monumen itu. Untuk tujuan tersebut, jenis stupa lain akan didirikan dan, memang, stupa kecil digali pada awal abad ini.
Stupa besar tidak hanya menjadi mahkota tetapi monumen itu sendiri, sembilan teras kemudian hanya menjadi dasar bertingkat yang menopangnya. Sangat mungkin sebuah stupa didirikan di atas banyak alas, tetapi tidak sedemikian rupa sehingga seluruhnya dikerdilkan dalam ukuran dan kepentingan oleh dasar itu. Ini sama sekali tidak dapat didamaikan dengan rasa keindahan tertinggi dan kualitas pekerjaan yang terlihat di setiap detail Chandi Borobudur. Bagaimanapun, konstruksi yang melibatkan tidak kurang dari 55.000 meter kubik batu tidak akan pernah dimulai tanpa terlebih dahulu memiliki desain yang terencana dengan baik. Dengan demikian, kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur adalah candi dan bukan stupa, meskipun berbeda dari candi lain di Indonesia. Pembagian vertikal Chandi Borobudur menjadi dasar, badan dan bangunan atas, membuat stupa besar hanya bagian atas monumen, sangat sesuai dengan gagasan chandi sebagai representasi gunung kosmik.
Tiga bagian yang ditumpangkan mewakili tiga lingkup alam semesta, yaitu bhurloka atau disebut Alam Fana, bhuvarloka atau Alam Yang Disucikan, dan svarloka atau Alam Dewa. Chandi juga memiliki simbol internal dari tiga alam. Di tengah alasnya terdapat suatu lubang, di bawahnya ditempatkan kotak penyimpanan untuk ritual. Kotak itu berisi pripih yang terdiri dari beberapa beberapa keping logam, batu mulia dan berbagai biji-bijian, yang melambangkan unsur-unsur duniawi. Di atas lubang, di ruang kuil, gambar Tuhan ditahtakan. Di bagian atas dari batu padat, ruang kecil yang disediakan mempunyai tujuan untuk pripih lain yang mewakili unsur-unsur Sang Pencipta.
Selama upacara ritual, dewa turun dari tempat tinggal sementaranya di ruang kecil di atas chandi ke ruang kuil, dan mengilhami patung itu dengan rohnya. Pada saat yang sama unsur-unsur duniawi dari lubang di dasar chandi memberi patung itu tubuh sementara. Lengkap dengan tubuh dan jiwa, patung itu menjadi hidup. Itu bukan lagi benda mati, tetapi Tuhan yang hidup, yang dapat menerima penghormatan dan berkomunikasi dengan pendeta yang memimpin. Karena Candi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, candi tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi. Oleh karena itu dapat dianggap sebagai tempat ziarah dari pada tempat ibadah, sistem tangga dan koridor membimbing peziarah secara bertahap untuk naik ke platform paling atas melalui perambulasi sepanjang teras berturut-turut. Penganut agama Buddha memberikan tekanan khusus pada tahap persiapan mental yang harus dilalui sebelum mencapai tujuan yang sebenarnya sebagai tujuan akhir, yaitu pembebasan definitif dari semua ikatan duniawi dan pengecualian mutlak dari kelahiran kembali. Tiga alam Semesta akibatnya ditunjuk dalam istilah yang sama. Lingkup terendah adalah kamadhatu atau Alam Keinginan. Pada tahap ini manusia terikat pada keinginannya. Alam yang lebih tinggi adalah rupadhatu atau Alam Bentuk, di mana manusia telah meninggalkan keinginannya tetapi masih terikat pada nama dan bentuk. Lingkup tertinggi adalah arupadhatu atau Alam Tanpa Bentuk. Dalam lingkup ini tidak ada lagi nama atau bentuk. Manusia sekali dan selamanya dibebaskan dari semua ikatan dengan dunia fenomenal.
Di Chandi Borobudur Kamadhatu diwakili oleh alas, Rupadhatu oleh lima teras persegi, dan Arupadhatu diwakili oleh tiga teras melingkar ditambah stupa terbesar. Rupadhatu dibedakan dari Arupadhatu tidak hanya oleh fitur arsitektur, tetapi juga oleh banyaknya dekorasi teras persegi yang kontras dengan dataran teras melingkar.
Akan tetapi, alasnya tidak memberikan bukti yang langsung terlihat mewakili kamadhatu. Hal ini karena itu bukan penyangga asli dari monumen tersebut, tetapi sebuah bungkusan yang menyembunyikan dasar yang sebenarnya, dan rangkaian 160 reliefnya, dari pandangan pengunjung. Pangkalan ini, populer disebut 'kaki tersembunyi', ditemukan pada tahun 1885. Penemuan itu mengungkapkan, tidak hanya relief, tetapi prasasti pendek yang terukir di banyak panel. Prasasti itu tampaknya adalah instruksi bagi para pematung, yang menunjukkan pemandangan yang akan diukir. Mereka diakui sebagai kata kunci dari naskah suci Buddha 'Mahakarmavibhangga'. Teks ini membahas tentang bekerjanya karma, yaitu hukum sebab akibat, reinkarnasi, di surga dan di neraka. Relief-relief tersebut menggambarkan moralitas di bumi, menunjukkan bagaimana setiap pikiran, tindakan dan perasaan menghasilkan suatu keadaan bahagia atau kecelakaan yang mengerikan. Hukum sebab dan akibat pada dasarnya didasarkan pada dominasi keinginan. Oleh karena itu sebutan kamadhatu tidak diragukan lagi benar untuk alas dan 'kaki tersembunyi' Chandi Borobudur.
| Kaki candi Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pertanyaan keingintahuan tentu saja mengapa bagian 'kaki' itu terkubur, menyembunyikan semangat dan dedikasi para seniman setia. Penggunaan 12.750 meter kubik batu untuk membuat bungkus, dan pengorbanan elemen arsitektur dan relief tampaknya sangat menunjukkan bahwa kesehatan monumen dipertaruhkan. Karena sebagian besar fondasi piramid berundak yang secara bertahap dipasang harus bertumpu pada tanah yang terisi, beberapa kemungkinan terjadi geser, dan menjadi perlu untuk membuat dinding di dasarnya. Dengan kata lain, dinding selubung adalah tanggul penahan yang dilemparkan ke sekeliling untuk mencegah longsor lebih lanjut dan untuk menghindari bencana yang lebih buruk. Solusi teknis dari suatu bungkus yang memiliki kompensasi estetika dan agama tertentu. Platform luas yang disediakan oleh dinding tambahan menghaluskan garis luar. Pada saat yang sama memberikan ruang yang cukup dan memungkinkan peziarah untuk melakukan putaran awal di waktu luang dan merenungkan lagi sebelum memasuki Jalan sempit Buddhisme.
Karena, berbeda dengan keterbukaan kehidupan duniawi di kamadhatu, jalan menuju keselamatan tertinggi membutuhkan penyempitan penglihatan tubuh dan konsentrasi pikiran; dan galeri sempit rupadhatu membantu mereka yang setia untuk mencapai ini dengan cara yang paling tepat. Rupadhatu pada pandangan pertama membingungkan. Dindingnya penuh dengan relief, begitu pula langkan. Tidak kurang dari 1.300 panel relief naratif, dengan panjang total 2.500 m, dan selanjutnya 1212 relief dekoratif, mengapit koridor. Di atas relief di dinding, dekorasi berukir terus menerus membentang lebih dari 1500 m, dan cornice di atasnya dihiasi oleh 1416 antefix.
Bagian atas dinding (sesuai dengan fasad luar pagar langkan) terdiri dari relung yang diselingi dengan relief dekoratif. Ada 432 relung di sekitar lima teras, masing-masing berisi patung Buddha duduk. Di atas relung, stupa-stupa padat kecil membumbung ke langit. Dan karena dinding di belakang relung merupakan fasad bagian dalam langkan, deretan 1472 stupa pada gilirannya membentuk kaki langit langkan yang agak kasar. Kelimpahan bentuk yang membingungkan di rupadhatu memiliki pasangannya dalam relief naratif.
![]() |
Dinding relief Ruphadhatu. Lorong koridor dengan dinding galeri relif. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Biografi Sang Buddha, dari turunnya dari surga sampai pencerahannya, digambarkan di dinding utama galeri pertama. Kisah Sudhana dalam mencari Kebijaksanaan Tertinggi dan Kebenaran Tertinggi diceritakan dalam relief yang menutupi dinding galeri kedua, ketiga dan keempat. Kegigihan tokoh utama rupadhatu dan upaya tak kenal lelah mereka untuk mencapai tujuan akhir, meskipun mereka terlibat dengan kekayaan dan keindahan bentuk yang luar biasa, memberikan model bagi peziarah saat ia berkeliling melalui tahap-tahap yang berurutan. teras persegi rupadhatu, platform melingkar yang mewakili Alam Tanpa Bentuk adalah polos: tidak ada ukiran, tidak ada ornamen, tidak ada hiasan. Satu-satunya jeda dalam kepolosan yang monoton itu ditawarkan oleh deretan stupa yang mengelilingi kubah pusat yang besar.
![]() |
Borobudur teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Didukung oleh bantalan teratai, stupa disusun dalam tiga lingkaran secara konsentris, sesuai dengan tiga platform melingkar. Semuanya ada 72 stupa: 32 di tingkat terendah atau pertama, 24 di tingkat kedua dan 16 di tingkat ketiga. Masing-masing dari 72 stupa memiliki semacam permukaan kisi-kisi, terdiri dari batu dan ruang kosong berbentuk berlian yang sebagian memperlihatkan patung Buddha duduk di dalamnya.
Stupa pusat bertumpu pada alas dengan diameter hampir 10 m dan bantalan teratai besar setebal setengah meter. Kubah itu atau stupa memiliki ruang dalam, tetapi tidak ada pintu masuk yang memungkinkan. Meski kosong saat diselidiki, ruang dalam itu kemungkinan besar merupakan tempat penyimpanan pripih atau peninggalan. Puncak kubahnya dimutilasi. Sisa-sisa bagian yang hilang pernah digunakan untuk membuat rekonstruksi dugaan puncak. Tiga payungnya yang ditumpangkan memberi monumen itu ketinggian total 42 m (bukan yang sekarang 34,5 m). Namun, karena tidak ada dasar yang benar-benar dapat dipercaya untuk rekonstruksi ini, tidak ada restorasi puncak menara yang sebenarnya telah dilakukan.
Keterbukaan total Arupadhatu, dan pemandangan indah darinya, secara realistis melambangkan pelebaran cakrawala spiritualnya yang tak berujung yang dapat dicapai oleh peziarah dengan secara konsisten mengikuti perilaku saleh dalam kehidupan Sang Buddha. Setelah menyerap semangat Rupadhatu, ia mengetahui kegembiraan menjadi lebih bijaksana, jika tidak tercerahkan. Dan pengunjung biasa menemukan bahwa perjalanannya yang melelahkan sangat dihargai.
Stupa teras Arupadhatu Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Desain Struktural
Arsitektur candi Borobudur merupakan sebuah bentuk mahakarya estetika dalam agama Buddha di Indonesia, sebagai lambang puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni rupa Budha di Jawa. Penanda arsitektur candi Borobudur seperti yang dijelaskan oleh beberapa ahli bahwa candi adalah merupakan representasi Gunung atau Mahameru. Sehingga fungsi candi adalah sebagai kuil menurut teori yang dijelaskan oleh Soekmono, dan dalam arti yang lain candi mempunyai fungsi sebagai makam, hal ini dikemukakan oleh teori Brumund dan Groeneman.
Menyebutkan dalam pembagian tiga alam secara vertical adalah Bumi (bhurloka - kamadatu - darsanamarga), Dunia tengah / atmosfir (bhuvarloka - rupadatu - bhawamamarga) dan Dunia para dewa / dunia atas (svarloka - arupadatu - asaikamarga).
Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan – de casparis. Sebagai mandala – yang nyata (garbhadatu) dan yang ideal (vajradhatu) Marsis sutopo.
| Borobudur mandala. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Arkeolog yakin bahwa konsep pembangunan candi Borobudur dirancang memiliki fungsi, tujuan dan makna dalam penanggalan, astronomi, yang berhubungan dengan kosmologi Buddha. Konsep ini sama dengan yang ada di candi Angkor Wat di Kamboja.
Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Dasar dalam konsep pembangunanya berukuran 121.66 m × 121.38 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi 4 meter (13 ft). Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 meter (23 ft) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 meter (6.6 ft), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter (115 ft) dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter (138 ft).
![]() |
Tangga candi Borobudur mendaki melalui gapura Kala Makara Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. |
Tangga terletak pada bagian tengah pada keempat sisi arah mata angin yang digunakan untuk menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya.
Didukung oleh bantalan teratai, stupa disusun dalam tiga lingkaran konsentris, sesuai dengan tiga platform melingkar. Semuanya ada 72 stupa, dan terbagi dalam 32 di tingkat terendah atau pertama, 24 di tingkat kedua dan 16 di tingkat ketiga. Masing-masing dari 72 stupa memiliki semacam permukaan kisi-kisi, terdiri dari batu dan ruang kosong berbentuk berlian yang sebagian besar memperlihatkan patung Buddha duduk di dalamnya.
Stupa pusat bertumpu pada alas dengan diameter hampir 10 m dan bantalan teratai besar setebal setengah meter. Kubah itu memiliki ruang dalam, tetapi tidak ada pintu masuk yang memungkinkan. Meski kosong saat diselidiki, ruang dalam itu kemungkinan besar merupakan tempat penyimpanan pripih atau peninggalan. Puncak kubahnya dimutilasi. Sisa-sisa bagian yang hilang pernah digunakan untuk membuat rekonstruksi dugaan puncak. Tiga payungnya yang ditumpangkan memberi monumen itu ketinggian total 42 m (bukan yang sekarang 34,5 m). Namun, karena tidak ada dasar yang benar-benar dapat dipercaya untuk rekonstruksi ini, tidak ada restorasi puncak menara yang sebenarnya telah dilakukan.
Sekitar Candi Borobudur
Di masa lalu, pulau yang disebut terpencil adalah pulau Jawa, diceritakan pulau yang mengambang di lautan, sehingga harus disandarkan dan dipaku ke pusat bumi sebelum bisa dihuni. Paku besar yang menjadi sebuah bukit kecil, yang disebut bukit Tidar, terletak di bagian utara. Dan terletak hanya sekitar lima belas kilometer menuju ke sebelah selatan bukit Tidar adalah Chandi Borobudur.
Sudut tenggara dataran adalah satu-satunya yang tidak terhalang oleh barisan pegunungan; di titik ini, rantai Menoreh membelok ke selatan sebelum mencapai kaki Merapi. Dan melalui jalur inilah perairan wilayah Kedu meninggalkan dataran dan mengalir ke Samudera Hindia. Dataran Kedu berpotongan dengan dua sungai utama di wilayah ini yaitu Progo dan Elo. Keduanya berjalan hampir sejajar dari utara ke selatan, memaksa jalan mereka melalui parit yang sempit tapi dalam. Ditangkap oleh lereng punggungan daratan sebelah selatan, kedua sungai mengalir bersama, setelah itu sungai Progo membawa air ke laut di sepanjang pegunungan Menoreh yang membelok ke selatan. Daerah di sekitar pertemuan sungai Progo dan Elo pada zaman dahulu merupakan tempat suci yang sangat penting.
Dataran kedu yang subur nan hijau, daerah yang hampir di semua wilayahnya dikelilingi oleh barisan pegunungan dan seolah-olah memperindah dan mempercantik pemandangan, dengan dua pasang rangkaian gunung berapi yang menjulang tinggi ke angkasa: gunung Merapi (2.911 m) dan gunung Merbabu (3.142 m) berada di timur laut, serta gunung Sumbing (3371 m) dan gunung Sindoro (3135 m) di sebelah barat laut. Memandang ke sisi barat dan selatan dataran ditutup oleh rantai perbukitan yang panjang, yang membentuk kaki langit berbatu dengan masa menjulang dengan bentuk tak terbatas. Oleh karena itu denominasi 'Jajaran Menoreh' (menoreh singkatan dari menara dan berarti 'menara').
Disebutkan wilayah di sekitar 'Paku Jawa', yang lebih dikenal sebagai 'Dataran Kedu', merupakan wilayah yang membentuk pusat geografis pada pulau ini. Terkenal dengan kesuburan tanah lahan yang ekstrim, dan penduduk yang sangat rajin, menjelaskan mengapa pulau ini sering disebut "Taman Jawa".
![]() |
| Pemandangan Chandi Borobudur dari barat laut, disebutkan dalam prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sejumlah besar monumen di dataran Kedu didirikan di sini. Tempat-tempat suci Hindu dan Buddha, bisa dikatakan, dikemas bersama dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, monumen Buddha utama di daerah ini adalah: Chandi Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawen yang terdiri dari lima struktur.
Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga; meskipun berdiri pada jarak yang cukup jauh satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan triad. Tata letak seperti ini, bagaimanapun, tidak ditemukan di Borobudur. Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
![]() |
| Koridor imajiner-jalan penghubung tiga candi. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalur prosesi beraspal, diapit oleh langkan yang didekorasi dengan indah. Beberapa batu pahat yang ditemukan di ladang sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa trotoar. Komposisi triad yang luar biasa telah menyebabkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut.
Chandi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, tidak ada tempat di mana umat bisa beribadah. Kemungkinan besar itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual. Dipandu dan dipandu oleh relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, di sisi lain, tampaknya menjadi tempat pemujaan.
Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan. Asumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanannya dari Chandi Mendut ke Chandi Borobudur di sepanjang jalur prosesi beraspal mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam stasiun dalam perjalanan panjang; Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah wajib di Chandi Mendut, Chandi Pawon mempersilahkannya untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia menyarankan bahwa Chandi Borobudur awalnya mewakili bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk denah monumen yang menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit sehingga menunjukkan teratai mengambang di udara. Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda, namun hal itu terangkai dalam menggambarkan jalan untuk menuju kebudhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
Selain itu, didalam kehidupan dan tradisi masyarakat menunjukkan bahwa terdapat beberapa nama desa - desa di wilayah sekitar yang memiliki nama, berhubungan erat dengan arti kata tanjung ('tanjung'), dan semuanya terletak tepat di atas garis elevasi yang sama, yaitu 235 m di atas permukaan laut. Dan, yang cukup luar biasa adalah, terdapat dua monumen yang dibangun terletak di sebelah timur yaitu Chandi Pawon dan Chandi Mendut.
Nieuwenkamp menerangkan sampai pada titik kesimpulan bahwa pada dasarnya dataran Kedu di bawah garis elevasi 235 m dahulunya adalah sebuah danau, tempat dimana bangunan chandi Borobudur dibangun dan diberi istilah 'mengapung dan melayang'. Kemudian dua bangunan Chandi Pawon dan Chandi Mendut dibangun terletak di tepi sebuah danau. Dan monumen Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau.
Di dalam agama Buddha, ada beberapa bentuk bunga teratai seperti; bunga teratai dalam bentuk padma (teratai merah), berbentuk utpala (teratai biru), ataupun dalam bentuk kumuda (teratai putih), yang dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Budha. Bunga teratai yang seringkali berada dan digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Bentuk arsitektur candi Borobudur yang diterjemahkan dalam arti filosofi agama Buddha, menyerupai bentuk bunga teratai dan postur arca Budha melambangkan Sutra Teratai yang banyak ditemukan dalam naskah keagamaan agama Budha Mahayana. Sedangkan bentuk teras-teras lingkaran pada bagian atas chandi Borobudur yaitu tiga pelataran melingkar, diartikan melambangkan kelopak bunga teratai.
Borobudur - Danau Purba
Danau purba Borobudur, seperti candi pada umumnya, candi Borobudur dibangun di atas danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau ini yang menyebutkan bahwa Borobudur dibangun tepat di tepi atau bahkan di tengah danau. Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau yaitu melihat bentuk arsitektur bahwa sekitar Borobudur adalah daratan kering, bukan danau purba. Ahli geologi menunjukkan dengan bukti, endapan sedimen lumpur. Penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel keberadaan danau purba sekitar Borobudur. Aliran sungai dan aktivitas vulkanik telah mengubah bentang alam dan topografi lingkungan Borobudur. Keberadaan Merapi dekat dengan bangunan suci ini, dan saat ini masih aktif.
Sangat luar biasa dan mengesankan Chandi Borobudur yang dibangun mengapung diatas sebuah danau. Tanah berlumpur berair menggenang yang memang sebenarnya ada sebuah danau di dekat chandi Borobudur. Perdebatan tentang hipotesis sebuah danau yang disebutkan oleh seorang ahli yang bernama Nieuwenkamp, mendapatkan respon dengan adanya penyelidikan geologis lebih lanjut di daerah sekitar bangunan monumen chandi Borobudur yang menghasilkan beberapa bukti lebih lanjut yang mendukung hipotesis tersebut, meskipun penelitian itu tidak berkaitan dengan seberapa luas danau tersebut. Dalam hal ini, kesimpulan akhir dalam penelitian ini masih menunggu penelitian yang lebih luas dan spesifik.
Menurut legenda ditanah Jawa, diceritakan bahwa daerah yang dikenal dan disebut sebagai dataran Kedu adalah tempat wilayah yang dianggap suci dan termashur dalam kepercayaan orang Jawa, bahkan disanjung sebagai '' Taman pulau Jawa '' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Lingkungan Tiga Candi
Selain candi Borobudur, terdapat dua bangunan candi disebelah timur berjarak kurang dari tiga kilometer berdiri bangunan candi Mendut, sedangkan candi Pawon berada tepat ditengah berjarak satu setengah kilometer diantara candi Borobudur dan candi Mendut. Selain itu terdapat beberapa ragam candi Budha dan Hindu di sekitar tiga candi ini, seperti candi Ngawe atau Ngawen yang merupakan candi Budha. Pada masa penemuan dan ekskavasi pemugaran disebutkan bahwa kedua candi Budha yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon mempunyai keterkaitan hubungan secara gegrafis yang disebut dengan "garis imajiner" garis penghubung antara ketiga candi yaitu candi Borobudur - candi Pawon - candi Mendut dalam satu garis lurus.
Kemudian masih menyisakan satu candi Ngawen apabila digambarkan dalam peta, keempat candi tersebut membentang dalam satu garis lurus. Pada awalnya masih pada suatu kemungkinan, dari beberapa studi yang dilakukan ditemukan jalan dengan lantai beralas batu sebagai jalan penghubung, akan tetapi berdasarkan penelitian jalan berlantai batu tersebut masih menunggu ekskavasi lebih spesifik untuk ketiga candi ini.
Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu dan berpagar dan mungkin ini hanya dongeng belaka, akan tetapi para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini. Ketiga candi ini (Borobudur – Pawon - Mendut) memiliki kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini, akan tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui secara pasti.
Selain candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur ditemukan beberapa peninggalan purbakala, di antaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yang menunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian. Temuan-temuan purbakala di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur, yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra Raksa.
Tidak seberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan reruntuhan bekas candi Hindu yang disebut Candi Banon. Pada candi ini ditemukan beberapa arca dewa–dewa utama Hindu dalam keadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi batu asli Candi Banon amat sedikit ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan rekonstruksi.Pada saat penemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia (kini Jakarta) dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.
Langkah Menuju Sejarah
Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan candi Borobudur, sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.
Keberadaan candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dalam pembangunannya memakan waktu kurang lebih 100 tahun, yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga, dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M, antara tahun 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya.
Dokumen tertulis bagaimana tentang pembangunan Chandi Borobudur, referensi tentang siapa yang membangunnya atau apa tujuan yang dimaksudkan. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti yang dipahatkan di batu tulis dan di atas relief pada 'kaki tersembunyi' monumen chandi Borobudur memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.
Kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 disebutkan adalah Zaman Keemasan dinasti Syailendra. Hal ini menghasilkan banyak sejumlah besar monumen, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung di Jawa Tengah. Bangunan bempat - tempat suci Siva mendominasi di daerah pegunungan; daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha didirikan berdekatan.
Nama 'Syailendra' pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua - tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia - seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Chandi Borobudur.
| Prasasti Sojomerto Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Nama Sanjaya kemudian muncul sekali lagi dalam prasasti Mantyasih berangka tahun 907 M, ditemukan kurang lebih sekitar 15 km sebelah utara Chandi Borobudur, prasasti Mantyasih hanya berisi daftar tentang raja - raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti tersebut yang berisi daftar raja - raja yang memerintah, secara eksplisit dianggap berasal dari dinasti Syailendra, hal ini sebenarnya masih diragukan, bahwa Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun candi Tara di desa Kalasan. Wangsa Syailendra dikenal sebagai pengikut setia aliran Budha, tetapi wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto disebutkan adalah beraliran Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan beragama Hindu. Oleh karena itu dapat dijelaskankan bahwa raja-raja yang disebutkan didalam prasasti tersebut semuanya adalah pemeluk agama Hindu.
Menurut teori ini, Rakai Panangkaran adalah seorang raja dari wangsa Sanjaya yang berperan dalam pendirian kuil atau candi Budha Kalasan, sebenarnya hanyalah untuk memberikan sebidang tanah yang diperlukan dalam pembangunan candi; belum tentu seorang yang beragama Budha. Dalam hal ini agama tidak menjadi perbedaan dan konflik serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin bisa saja bagi seorang raja Hindu berperan dan mendukung pendirian bangunan candi Budha, atau bagi seorang raja yang beragama Budha untuk melakukan hal yang sama sebaliknya.
Anggapan tentang hanya satu dinasti kerajaan, satu - satunya yang memerintah Jawa Tengah kala itu dari mulai abad kedelapan hingga awal abad kesepuluh secara langsung telah menghilangkan anggapan yang terkait mengenai asal usul wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju ke Jawa Tengah, yang mungkin diharapkan untuk dapat menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun, ini sulit untuk dipastikan dengan fakta bahwa wangsa Sailendra muncul dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan wangsa Sanyaya sebelumnya sebenarnya menguasai dan memiliki wilayah lebih jauh ke utara.
Peran yang dimainkan oleh orang Indonesia dalam proses ini tampaknya tidak hanya terbatas pada mengadopsi dan mencerna unsur-unsur impor India, tetapi juga melibatkan misi ke 'ibu negara'. Asumsi kontak terus menerus, atau setidaknya teratur, akan membantu menjelaskan munculnya kerajaan tertua di berbagai bagian negara. Namun, keterlibatan leluhur pribumi dalam silsilah raja yang memerintah, yang mengeluarkan dekrit, hanya dapat dianggap mencerminkan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan - kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama sebelumnya. Kenyataannya, dekrit - dekrit itu, yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang - orang yang dituju kecuali jika mereka sudah dapat menghargai bahasa yang cukup asing ini, yang sekarang digunakan dalam dokumen-dokumen resmi.
Sejarah paling awal Indonesia ditandai dengan kebangkitan mendadak, dan akhir yang tiba - tiba, dari kerajaan-kerajaan tertua. Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad kelima) dan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad kelima), masing - masing memiliki dekrit kerajaan, yang dikeluarkan oleh satu raja. Keberadaan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui dari satu dokumen (Prasasti Dinoyo tahun 760 M). Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih berkelanjutan tersedia di Jawa Tengah, dimulai dengan prasasti Changgal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh. Dari pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal sebagai 'periode Jawa Timur'. Meskipun Sumatera dan Bali juga berkontribusi dalam pembuatan sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwanya adalah dokumenter tercantum dalam prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga 'Jawa Tengah' dan 'Jawa Timur' telah menjadi istilah yang diterima dalam berurusan dengan monumen dan patung dalam sastra.
Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan tertulis bahwa " Bhumi Sambhara Budhalra " dan " Kamulan " adalah bangunan candi Borobudur yang dibangun antara tahun 760 dan 830 M, pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu sekitar 75 - 100 tahun yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, melalui temuan prasasti Sojomerto hal ini menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang berada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 M. Pembangunan candi Buddha, dalam hal ini termasuk Borobudur, saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, yaitu Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang telah dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan pada tahun 778 Masehi.
Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa — kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasa8na toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Penemuan Borobudur
Tidak diketahui secara pasti berapa lama Chandi Borobudur digunakan, atau kapan berhenti berfungsi sebagai monumen untuk memuliakan kebesaran dinasti yang berkuasa dan, pada saat yang sama, sebagai pusat ziarah agama Buddha.
Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang berpengalaman dalam menjelajahi barang antik di Jawa, untuk menyelidiki. Cornelius mempekerjakan sekitar 200 penduduk desa untuk menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah dan sampah di mana monumen itu dibangun. sudah lama terkubur. Dalam dua bulan ia telah menyelesaikan pekerjaannya, meski banyak bagian galeri yang belum bisa digali karena bahaya runtuh. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar.
Dua jilid History of Java-nya yang terbit pada tahun 1817 hanya mencurahkan beberapa kalimat untuk monumen itu. Bab tentang barang antik sangat singkat, karena ia bermaksud untuk menerbitkan secara terpisah 'Account of the Antiquities of Java'. Ini sebenarnya tidak pernah muncul. Namun, Raffles tetap sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Chandi Borobudur dari pelupaan, dan telah membuatnya diketahui oleh banyak orang.
Administrator Belanda di wilayah Kedu, Hartmann, adalah salah satu penguasa yang memberi perhatian khusus pada Chandi Borobudur. Dia mengatur pemindahan lebih lanjut dari puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh monumen dibebaskan dari penutup terakhirnya yang rusak. Sangat disayangkan Hartmann tidak menulis laporan tentang kegiatannya, sehingga apa yang diketahui tentang mereka hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Sangat disesalkan bahwa cerita tentang dugaan penemuan batu Buddha di stupa utama telah menyebabkan perselisihan tanpa akhir.
Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap interior kubah besar. Apa yang sebenarnya dia temukan tidak diketahui, tetapi laporan Wilsen tahun 1853 menyebutkan seorang Buddha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada patung seperti itu yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa patung itu ditempatkan di sana oleh pejabat distrik asli untuk memuaskan administrator Belanda. Hartmann tertarik pada Chandi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah, tetapi Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang dikirim secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar. detail arsitektur dan reliefnya.
Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat deskripsi rinci, yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan diterbitkan dan dilengkapi dengan gambar-gambar Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar Wilsen, dengan studi Brumund sebagai suplemen. Pemerintah kemudian harus menunjuk sarjana lain dan memilih Leemans yang, pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund dan menyusun monografi yang akan dilengkapi dengan gambar Wilsen. Tetapi ketika monografi itu akhirnya muncul di media cetak pada tahun 1873 (diikuti dengan terjemahan bahasa Prancis pada tahun 1874), semua bahan yang tersedia di Candi Borobudur telah tersedia untuk umum. Informasi diberikan pada setiap detail monumen, dan Chandi Borobudur tidak akan pernah lagi terlupakan.
Lingkungan Borobudur
Di masa lalu yang paling terpencil pulau Jawa mengambang di lautan, dan harus dipaku ke pusat bumi sebelum bisa dihuni. Paku besar menjadi sebuah bukit kecil, yang disebut Tidar, di pinggiran selatan kota Magelang sekarang. Dan hanya sekitar lima belas kilometer selatan bukit Tidar adalah Chandi Borobudur terletak.
Wilayah di sekitar 'Paku Jawa', lebih dikenal sebagai 'Dataran Kedu', membentuk pusat geografis pulau ini. Kesuburannya yang ekstrim, dan penduduk yang sangat rajin, menjelaskan mengapa taman ini sering disebut Taman Jawa.
Dataran bergelombang ini hampir di semua sisinya dibatasi oleh barisan pegunungan yang terjal. Dan seolah memperindah pemandangan, dua rangkaian gunung berapi kembar membubung ke angkasa: Merapi (2.911 m) dan Merbabu (3.142 m) di timur laut, serta Gunung Sumbing (3371 m) dan Sindoro (3135 m) di barat laut. Merapi sekarang aktif dan letusan kecil terjadi setiap dua atau tiga tahun. Sisi barat dan selatan dataran ditutup oleh rantai perbukitan yang panjang, yang membentuk kaki langit berbatu dengan masa menjulang dengan bentuk tak terbatas. Oleh karena itu denominasi 'Jajaran Menoreh' (menoreh singkatan dari menara dan berarti 'menara').
Sudut tenggara dataran adalah satu-satunya yang tidak terhalang oleh barisan pegunungan; di titik ini, rantai Menoreh membelok ke selatan sebelum mencapai kaki Merapi. Dan melalui jalur inilah perairan wilayah Kedu meninggalkan dataran dan mengalir ke Samudera Hindia. Dataran Kedu berpotongan dengan dua sungai utama di wilayah ini: Progo dan Elo. Keduanya berjalan hampir sejajar dari utara ke selatan, memaksa jalan mereka melalui parit yang sempit tapi dalam.
Ditangkap oleh lereng punggungan selatan dataran, kedua sungai mengalir bersama, setelah itu sungai Progo membawa air ke laut di sepanjang pegunungan Menoreh yang membelok ke selatan. Daerah di sekitar pertemuan sungai Progo dan Elo pada zaman dahulu merupakan tempat suci yang sangat penting.
![]() |
Monumen terbesar didunia Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pemandangan Chandi Borobudur dari barat laut, tugu tersebut disebutkan dalam prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan.
Sejumlah besar monumen dataran Kedu didirikan di sini. Tempat-tempat suci Hindu dan Budha, bisa dikatakan, dikemas bersama dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, monumen Buddha utama di daerah ini adalah: Chandi Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawen yang terdiri dari lima struktur. Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga; meskipun berdiri pada jarak yang cukup jauh satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan triad. Tata letak seperti ini, bagaimanapun, tidak ditemukan di Borobudur. Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalur prosesi beraspal, diapit oleh langkan yang didekorasi dengan indah. Beberapa batu pahat yang ditemukan di ladang sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa trotoar. Komposisi triad yang luar biasa telah menyebabkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut. Sejumlah besar monumen dataran Kedu didirikan di sini. Tempat-tempat suci Hindu dan Budha, bisa dikatakan, dikemas bersama dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, monumen Buddha utama di daerah ini adalah: Chand Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawe yang terdiri dari lima struktur.
Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga; meskipun berdiri pada jarak yang cukup jauh satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan triad. Tata letak seperti ini, bagaimanapun, tidak ditemukan di Borobudur. Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya.
Chandi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, tidak ada tempat di mana umat bisa beribadah. Kemungkinan besar itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual. Dipandu dan dipandu oleh relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, di sisi lain, tampaknya menjadi tempat pemujaan.
Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan. Asumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanannya dari Chandi Mendut ke Chandi Borobudur di sepanjang jalur prosesi beraspal mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam stasiun dalam perjalanan panjang; Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah wajib di Chandi Mendut, Chandi Pawon mempersilahkannya untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia menyarankan bahwa Chandi Borobudur awalnya mewakili bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit menunjukkan teratai mengambang di udara.
Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda-beda, namun masih terangkai menggambarkan jalan menuju kebudhaan, pencerahan, pembebasan samsara.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.







Comments
Post a Comment